Tuesday, October 7, 2014

Journey to Rinjani



RINJANI, SATU LANGKAH MENUJU LANGIT !!!!

      Cerita kali ini bukan mengenai perjalanan nonton konser maupun cerita tentang  kpop lainnya, cerita kali ini mengenai perjalan penuh perjuangan mendaki GUNUNG RINJANI…

        Kita tau, Gunung Rinjani merupakan Gunung tertinggi kedua di Indonesia, kata orang, "Belum orang LOMBOK namanya kalau belum mendaki Gunung RINJANI". Sebenarnya keinginan mendaki Rinjani ini sudah lama ada, apalagi sepupu-sepupu dan keluarga banyak yang sudah mendaki Rinjani.

      Rencana untuk naik Rinjani bareng temen-temen Kontingen NTB ini memang sudah lama ada, tapi baru tercetus kembali setelah kami Wisuda dan pengukuhan, tepatnya di BBM Grup NTB XXI, waktu itu Kak Billy, Windy, Kak Heru yang paling semangat buat ngajakin naik Rinjani. Fix dipilihlah tanggal 1 Agustus sebagai hari H, tanpa Perencanaan panjang akhirnya Aku, Kak Billy, Kak Wahyu, Kak Jaya, Dody (adik Kak Jaya), Cindy (pacar Kak Billy), Dadet, Yogi, Gambot, Murda (sepupu-sepupuku), Om tipul, miq maryan dan miq sebagai Porter. Beruntungnya ada Miq Ayot yang Punya Perlengkapan Naik Gunung Lengkap (Tenda, Kompor, Sleeping Bag, dll) dan 3 orang Paman yang sudah biasa menjadi Porter.

1 Agustus 2014…..
Bismillahirahmanirrahim…
            Kami berangkat dari Bayan Jam 06.00 Pagi, Sampai di Sembalun jam 07.00, rencananya kami memang naik melalui sembalun dan turun melalui Senaru. Perjalanan awal cukup ringan karena jalan yang landai, sepanjang jalan terlihat bukit-bukit yang didominasi ilalang. Pohon sangat jarang sehingga membebaskan mata memandang kesegala arah, sama seperti jalan-jalan yang pernah kami lalui ketika jalan juang di kampus. 
Jalan awal, masih mendatar
        Setelah beberapa lama sudah mulai Jalanan tanjakan, tanjakan berbatu, disana sudah agak sedikit melemah. Mendaki lewat sembalun memang kata orang lebih melelahkan, mungkin karena hawa dari sembalun lebih panas. Selama perjalanan gak berenti-berentinya kami bertanya Kapan sampainya.

          Sekitar jam 09.00 kami tiba di pos 1, pos 1  semacam pondok dengan atap seng. Hampir Setengah jam kami istirahat di pos 1. Kami melanjutkan perjalanan masih dengan semangat membara. Sampai di Pos 2 kami beristirahat sambil makan makanan kecil sebagai pengganti makan siang, lalu berjalan kembali sekitar jam 11.00, matahari sangat menyengat. Selanjutnya Pos 3, di Pos 3 ini kami berhenti untuk makan Siang, disini kami benar-benar lapar Om Tiful dkk, membuatkan kami Mie Instant untuk dimakan. Setelah dari Pos 3 Jalan mulai menanjak sehingga keringat bercucuran ditubuh kami. Jalan yang disebut dengan “Bukit Penyesalan” ini benar-benar menajak. Kami harus mendaki beberapa bukit dengan kemiringan sekitar 50-70 derajat, banyaknya bukit yang harus dilewati dan tanjakan yang panjang, punggungan demi punggungan semakin lama semakin menanjak dan terasa seperti tidak ada habisnya. Gunung mulai ditumbuhi beberapa pohon yang didominasi pohon pinus tapi ilalang masih menjadi tumbuhan utama. Di sepanjang jalan kami banyak bertemu turis asing maupun turis Domestik dan porter yang membawakan barang-barang mereka. Porter-porter membawa barang-barang dengan 2 buah keranjang dari rotan yang digabungkan dengan sebuah bambu, lalu kemudian dipikul dibahu. Kita bisa melihat barang-barang berupa sleeping bag (yang ukurannya relatif besar jika dibandingkan dengan ukuran sleeping bag saat ini), tenda, dan makanan,dsb.

         Benar kata orang, Perjalanan mendaki gunung merupakan ajang mencari teman, baik orang asing  maupun domestic semua membaur menjadi satu, saling menyemangati dan saling tolong. Seperti sebelumnya, semakin menanjak , semakin sering kami bertanya “KAPAN SAMPAINYA”. Satu hal lagi yang harus diingat ketika mendaki Gunung, jangan Percaya dengan Kata Orang yang mengatakan “SEBENTAR LAGI SAMPAI, SEDIKIT LAGI”.

      Sekitar pukul 17.30 kami sampai di Plawangan Sembalun, sebuah plank nama berdiri memberitahukan kami sudah sampai. Alhamdulillah akhirnya setelah mendaki Bukit Putus asa dan Bukit Penyesalan kami sampai juga di Plawangan Sembalun, Porter Kami Om tiful dkk, sudah sampai sebelum kami dan tendapun sudah siap kami gunakan. Tenda didirikan ditengah apitan dinding tanah yang menghalangi kami dari angin. Malam itu kami disuguhi mie rebus dengan campuran telur, nikmatnya makan malam setelah perjalanan panjang dengan pemandangan Rinjani yang Subhanallah Luar Biasa Indahnya. Hal yang Paling berkesan tentunya adalah Sholat di atas Gunung, Di bawah taburan bintang, rasanya semakin dekat dengan Allah SWT. Tuhan Semesta Alam Pencipta Alam yang Indah ini, Subhanallah.

         Om tiful bilang malam in kami harus tidur cepat, agar tenaga kami cukup untuk mendaki puncak besok, rencananya kami akan mendaki pukul 02.00 Dini hari. Menjelang tidur kami mempersiapkan bawaan untuk bekal diperjalanan menuju puncak esok paginya seperti jacket, sarung tangan,kaos kaki,senter kepala, kamera, air minum dan makanan kecil.

Menuju Puncak (2 Agustus 2014)
          Pukul 01.30, Aku dan Cindy dibangunkan. Udara benar-benar dingin, entah berapa suhunya, kami menggigil ketika keluar tenda. Sebelum kami mendaki puncak Kami melihat kelengkapan lagi, tidak lupa kami berdoa, Pendakian Puncak Rinjani di Komandoi oleh Yogi sepupuku yang sebelumnya memang pernah mendaki, Om tiful dkk menjaga tenda, dia Cuma berpesan, jangan sampai berpencar. Pukul 02.00, dengan headlamp dikepala dan jacket membungkus tubuh, kami mulai berjalan. Pertama-tama kami menaiki satu punggungan bukit yang berdebu dan berkerikil. Kemudian bukit-bukit lainnya menunggu didepan. Benar-benar penuh perjuangan, awalnya kami masih lengkap dan beriringan, namun lama kelamaan, kami berpencar, Untungnya Adik-adikku selalu ada menemani, mereka menjadi tukang tarik untukku selama mendaki. Semakin lama tanjakan semakin terjal dan berpasir.  Aku Dadet, Yogi, Murda dan Gambot berhenti dulu untuk menunggu yang lain (Kak jaya, Kak Billy,Kak Wahyu Cindy dan Dody), ternyata kata kak Jaya, Kak Billy dan Cindy masih jauh, mungkin mereka kembali ke tenda, sepertinya keadaaan Cindy tidak baik, maagnya kambuh. Kemudian Kami melanjutkan perjalanan lagi, semakin tinggi, suhunya semakin dingin titik-titik cahaya senter terlihat didepan dan dibelakang.

            Saat matahari mulai muncul dan perasaan sabar mulai diuji oleh tanjakan berpasir yang sangat panjang.  YA ALLAH, ini benar-benar tanjakan yang luar biasa panjangnya, rasanya ingin menyerah, apalagi dengan tanjakan pasir  yang apabila kita melangkah sedikit terpeleset.  pemandangan danau Segara Anak mulai terlihat disebelah kanan. Cukup menghibur dan membuat mata ingin selalu memandang. Disebelah kiri terlihat Desa Sembalun, dan bukit-bukit yang telah kami lalui dihari pertama. Pemandangan yang paling tidak enak adalah melihat kedepan. 

Jalan menuju puncak yg berbatu
           Aku melihat Dadet,Gambot dan Murda beberapa ratus meter didepanku, meski jauh namun terlihat jelas karena tidak ada yang menghalangi pandangan, hal itu membuat perasaan capek bertambah. Penghargaan Terbesar memang harus diberikan kepada Yogi dia yang menarikku menggunakan Sapuq (Kain ikat Kepala) benar-benar perjuangan. Ditengah langkah yang terseok-seok, Aku berkali-kali berhenti, memandang tak percaya pada jalan panjang yang masih ada didepan mata. Angin yang kencang menemani suara kaki ku yang bergesekan dengan pasir dan kerikil, “Ya Allah, Masih Jauh yaa”.

          Sekitar Pukul 09.00 Aku tiba dipuncak dan disambut Adik-adikku yang telah dulu sampai (tenaga mereka Luar biasa memang). Sampai di puncak kami harus bersabar dulu menunggu antrian, karena masih banyak yang antri untuk berfoto di Puncak Rinjani. Sambil menunggu kedatangan Kak Jaya, Kak Wahyu dan Dodi kami sempatkan diri untuk tidur beberapa menit di sisi-sisi puncak. Selang beberapa menit kami mendapatkan giliran untuk berfoto. Kamipun berfoto mengabadikan saat-saat dipuncak.
Puncak Rinjani with My Brother

         Sudah puas berfoto kamipun siap untuk turun, Yogi mengatakan mungkin kakak-kakak itu kembali ke tenda. Tapi beberapa langkah turun ada yang melambaikan tangan dari kejauhan, mungkin sekitar 5 Meter, ternyata itu adalah Kak Wahyu. Kamipun Menunggu Kak Wahyu dan naik kembali ke puncak untuk menemani kak Wahyu berfoto menggunakan PDUB, demi pacar tercinta katanya. Sepuluh jempol aku berikan untuk Kak Wahyu, Semangat dan tekad dia untuk berfoto dengan menggunakan PDUB demi Pacar tercintanya memang Luar biasa, awalnya dia yang paling terakhir sekarang malah dia satu-satunya Kakak yang berhasil mencapai puncak.

        Kak Jaya dan Dodi sudah hampir sampai seperempat jalan namun, karena suhu yang benar-benar dingin dan mereka juga yang tidak menggunakan sepatu, terpaksa berbalik arah dan kembali ke tenda, Namun perjuangan mereka juga Luar biasa, Kak Jaya dan Dodi sempat mengabadikan berfoto dengan membawa tulisan nama pasangan mereka masing-masing. Perjalanan turun tak semudah yang dibayangkan, NGERI, jalan yang berpasir tadi membuat Aku beberapa kali terpeleset, beruntung ada adik-adik  yang menjagaku, benar-benar mengerikan (menurutku).

            Sekitar jam 12 kami tiba di Plawangan Sembalun kembali, kami disuguhi Mie Rebus sayur ala om tiful, semuanya habis dengan sekejap, benar-benar lapar, setelah istirahat beberapa waktu kami memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan ke Danau Segara Anak, rencananya malam ini kami akan menginap di Danau Segara Anak.

            Pukul 14.00 kami mulai berjalan menuju danau. Jalanan sangat curam. Kami harus berjalan ekstra hati-hati karena jurang disebelah kiri jalan. Menurut porter, tiang-tiang yang ada disepanjang jalan sebelumnya dipasangi besi untuk pegangan bagi para pendaki. Namun tampaknya ada yang melepaskan besi-besi tersebut dari tiang-tiang beton dan membawanya entah kemana. Setelah menuruni punggungan bukit yang curam sekitar 2,5 jam, kami tiba disebuah lembah yang indah dan landai. Tak lama kemudian kami melihat danau dikejauhan. 

           Sekitar pukul 17.30 kami tiba di danau. Tenda sudah didirikan porter ditepi danau. Segera kami masuk tenda dan berganti pakaian. Keadaan Danau benar-benar Ramai, ini sudah tidak seperti di Gunung, amat sangat Ramai, Malah malamnya ada yang menyalakan kembang api, Luar biasa indahnya, kembang api di Danau Segara Anak.

Turun Melalui Jalur Senaru (3 Agustus 2014)
           Hari ini kami akan turun menuju Desa Senaru. Bukit yang harus kami lalui sangat terjal hingga menciutkan hati. Porter mengatakan, lereng itu biasanya dilalui 3 jam, setelah itu jalannya akan menurun. Kami sarapan dengan mie rebus dan telur lagi, ditambah dengan segelas teh. Pukul 09.00 kami meninggalkan danau melipir kearah kiri, kemudian menaiki bukit kearah Plawangan Senaru. Jalur sangat terjal mencapai 90 derajat, pohon-pohon didominasi pinus. Kami memanjat beberapa punggungan yang hanya memberikan sedikit tanah atau batu untuk dipijak. Jurang yang sangat dalam menganga disebelah kiri membuat kami berjalan hati-hati. Perjalanan Pulang ini juga sama seperti ketika mendaki, banyak orang lalu lalang, ada yang turun dan ada yang baru ingin menuju Danau. Beberapa kali Aku terkecoh, mengira bukit yang kudaki adalah tanjakan terakhir, namun kemudian mendapati masih ada tanjakan lainnya didepan. Sekali lagi jangan percaya dengan ucapan orang di gunung yang mengatakan “SEDIKIT LAGI, SEBENTAR LAGI SAMPAI”.

         Pemandangan terindah Segara Anak terlihat ketika kami memandang kebelakang, semua bagian danau terlihat jelas, berbeda jika kita memandang danau dari puncak, karena dari sini, danau terlihat lebih dekat. Sekitar jam 12 kurang kami tiba di Plawangan Senaru, lalu beristirahat sambil melonggarkan betis yang sejak pagi dipaksa bekerja keras. Disini Aku dan Kak Wahyu benar-benar berjanji kalau ini yang Pertama dan mungkin yang terakhir kalinya, Selalu saja Aku dan kak Wahyu yang jadi orang belakang. Kabut menemani langkah kami meninggalkan tempat itu. Pandangan hanya berjarak sekitar 15 meter hingga menghalangi mata melihat medan sekitar. Setelah berjalan sekitar 1 jam kami tiba di Pos 3. Kami makan siang disitu, porter kembali menawarkan mie instant lagi, tapi kami belum lapar, kamipun melanjutkan perjalanan ke pos 2. Sesampainya di pos 2 kami tidak ingin terlalu berlama-lama namun keadaan tidak bisa dibohongi,  semua sudah lapar kemudian om tiful dkk memasakkan kami mie instant lagi, nikmatnya Alhamdulillah, satu lagi ENERGEN, energen benar-benar bisa menambah energy saudara-saudara. Kami bertekad kalau hari itu sudah harus sampai rumah, tidak perlu menginap di plawangan maupun pos-pos lainnya. Perjalanan dari Pos 2 benar-benar luar biasa, Bayangkan tadi Aku yang paling belakang (didepan kak Wahyu) sekarang  jadi aku yang paling depan, bukan dengan berjalan tapi berlari (berkat energen sepertinya).

            Perjalanan turun dari pos 2 benar-benar luar biasa, kami lari seperti tidak ada beban, semangat untuk cepat sampai rumah dan tidur di tempat tidur mungkin ya. Pos Extra, Pos satu kami lewati dengan berlari, Sekali lagi LUAR BIASA. Tak terasa 3 jam berlalu dan kami sampai di Gerbang Rinjani Pukul 18.00 (tepat seperti perkiraan).

         Sampai di Desa Senaru kami beristirahat dulu di rumah Mik Ayot, benar-benar tenaga sudah 0%, rasanya ingin segera mandi dan tidur, tapi Mik Ayot menyarankan kami untuk tidak mandi dulu kata beliau tidak baik, nanti tubuh bisa kanget karena perubahan suhu. Kamipun beristirahat dan makan sejenak. Kami kembali ke rumah di Bayan, disana semua langsung membersihkan diri dan beristirahat. Paginya setelah sarapan kak Jaya, Kak Billy, Kak Wahyu, Cindy dan Dody pamitan pulang. Perjalan berakhir dengan penuh cerita menarik.

        Perjalanan Mendaki Gunung Rinjani ini merupakan pengalaman yang LUAR BIASA, pendakian pertamaku. Walaupun saat pendidikan dulu aku sering jalan juang, keluar masuk hutan, mendaki bukit, berendam di sungai sampai masuk Got  tapi ini AMAZING.

      Alhamdulillah, Impianku tercapai juga, setelah LULUS bisa mendaki Puncak Rinjani, menyenangkan dan Seru. Tak lupa Pula Ucapan Terima Kasih Kepada Om Tiful, Mik Maryan dan Mik Durian sebagai Porter dan Adik-adik penyelamatku tukang geret, Tanpa kalian wanita ini gak akan sampai Puncak Rinjani (Tenang, Traktiran Gaji Pertama) haha. Teman Seperjuangan juga, Kak Taya dan Dodi, Kak Billy dan Cindy walaupun gak sampai puncak tahun depan pasti sampai Kak !!. Kak Wahyu, Daebak! Luar Biasa, Demi Cinta, Demi Yayas ya Kak, PDUB di Puncak Rinjani, KEREN!! 3.726 Mdpl, SATU LANGKAH MENUJU LANGIT !!!!!.

Finally 3.726 Mdpl
Kak Billy, Kak Wahyu, Aku, dan Kak Jaya
Turun Gunung menjadi awal perjalanan hidup,
Dunia Kerja,
Tanggal 8 Agustus 2014, 
Kami Kontingen NTB Angkatan XXI Sudah Mulai Bekerja (Orientasi) di BKD…
Selamat Bertugas Saudara-Saudaraku NTB XXI….
Nan Jongmal Saranghaeyooo hyungdeul :D …..


                                                                                                Den2chan

Hello Seoul !!!!!

Hello Seoul !!!!  Assalamualaikum, mari saya ceritakan tentang sebuah ketidakmungkinan yang menjadi mungkin . Bagaimana perjalanan ...