ITS
LIKE OUR PRIVATE ISLAND, KENAWA ISLAND
Cerita
kali ini mengenai perjalan menuju Pulau Kenawa di Sumbawa, as usually
perjalanan kali ini dikomandoin sama Bilyando Idul Islam. Perencanaannya pun
sudah dari satu bulan sebelumnya dan seperti
biasanya bukan orang Indonesia kalo gak Ngaret rencana berangkat pukul 07.00 menjadi pukul 09.00 pagi.
Perjalanan menuju pulau kenawa terlebih dahulu harus menyeberang melalui pelabuhan Haji di
Lombok Timur. Perjalanan dari Mataram ke Lombok Timur sekitar satu jam setengah
dengan menggunakan sepeda motor. Sampai di Lombok Timur, kami terlebih dahulu istirahat
di rumah kak Yadi, kemudian dari rumah kak Yadi kami diantar dengan menggunakan
mobil menuju pelabuhan Lombok. Penyebrangan dari Labuhan Lombok menuju Poto Tano dengan menggunakan kapal
ferry menghabiskan waktu sekitar 1 jam 30 menit.
![]() |
| Kapal ferry ini yg mengantar kami pergi dan pulang |
Untuk mencapai Pulau Kenawa
satu-satunya cara adalah menyewa perahu. Tarif sewa perahu biasanya tergantung
banyaknya penumpang. Setelah negosiasi dengan pemilik perahu, akhirnya kami
diberikan tarif seharga Rp 400.000 dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.
Sepanjang perjalanan dari pelabuhan hingga pulau Kenawa, kami melihat
bukit-bukit dengan rumput yang hijau, pasir-pasir putih dan air laut yang
berwarna biru.
| Menuju pulau Kenawa dengan Perahu |
Menginjakkan kaki di Pulau Kenawa
merupakan suatu pengalaman tak akan terlupakan. Sebuah pulau kosong tanpa
penghuni, yang dipenuhi dengan padang savana yang hijau dengan sebuah bukit yang
terdapat di ujung pulau. Terdapat beberapa berugak di pesisir pulau, bahkan,
hampir mengelilingi pulau ini, sebagian atapnya sudah banyak yang bolong, terbang
bersama angin. Terdapat Tower penampung air namun sudah karatan. Penampung
airnya tak ada sama sekali. Kosong tak berbekas, disebelah kirinya terdapat dua
toilet yang sudah tidak terurus lagi. Di sisi barat pulau Kenawa berbatasan dengan pulau Sumbawa dengan jarak lumayan dekat.
Tiba di pulau ini, kami melihat dua orang pria yang sedang snorkling, ternyata hari itu pengunjung pulau ini baru dua orang. Rombongan menjadi pengunjung berikutnya dengan jumlah dua belas orang, namun tidak lama kedua orang tersebut dijemput dan kembali. Setelah menurunkan barang-barang, kami langsung menuju berugak dan selanjutnya istirahat sejenak di berugak paling besar di salah sudut di bagian barat laut pulau Kenawa.
Di luar, suasana yang menyejukkan
membuat kami ingin segera berenang melihat dan merasakan keindahan alam bawah laut di
Pulau ini, namun perut tidak bisa dibohongi sepertinya sudah waktunya kami
untuk memakan nasi bungkus yang tadi kami beli di kapal ferry saat penyeberangan.
Betapa nikmatnya nasi bungkus apabila kita makan di tempat seindah ini bersama orang-orang terdekat kita.
Angin sepoi-sepoi yang berhembus kencang dari pepohonan membuat kami semakin tidak
sabar untuk berenang. Siang menjelang sore kami habiskan waktu dengan berenang dan
menikmati keindahan pulau kenawa, sebagian dari kami mempersiapkan tenda untuk
beristirahat. Saat kami asik berenang dan snorkeling ada beberapa pengunjung
yang datang bergerombol, kami pikir mereka juga akan menginap seperti kami,
namun ternyata mereka hanya singgah untuk mengabadikan keindahan pulau kenawa
ini.
| Berugak ini menjadi tempat tidur kami juga |
Setelah berenang dan berkeliling pulau,
kami menuju tenda dan api unggun yang telah disiapkan, kemudian kami menghabiskan waktu
untuk menunggu sunset dan waktu shalat sambil bercerita dan mengabadikan foto
dipinggir pantai. Semakin sore semakin terasa kalau pulau ini milik pribadi,
karena sudah tidak ada pengunjung lain selain kami berdua belas. Menjelang
malam, setelah sholat kami tetap menikmati indahnya karunia Tuhan, kami
habiskan waktu di pingir pantai. Ketika kami asik bercerita tiba-tiba Itaq
berteriak, ternyata ada ular laut yang melewati kakinya, suasana mulai menegang
kami mulai tidak tenang karena sudah dua ular laut yang naik ke darat malam
itu, beruntung ada kak Atar (Si Pawang Ular saudara Panji Petualang) yang berani untuk memegang dan mengembalikan ular
tersebut ke laut.
Karena semakin malam, akhirnya kami
beranjak menuju tenda yang sudah di persiapkan tadi, sambil bercerita,
mendengarkan lagu, meminum kopi dan memakan snack bekal di dekat api unggun. Awalnya
terasa menyenangkan, namun, setelah beberapa waktu tiba-tiba Kak Wahyu melihat
ular laut itu naik kembali dan berada di dekat tenda kami, suasana kembali
menegang, kemudian kakak-kakak mengambil inisiatif untuk memindahkankan semua
barang-barang kami ke berugak terdekat. Jadilah malam itu kami putuskan untuk
tidak tidur di tenda, karena semakin malam ular laut semakin banyak yang naik
ke daratan itu berbahaya.
Ketika hari semakin malam, perut
kami mulai keroncongan dan waktunya untuk memakan bekal pop mie. Istirahat
malam berubah menjadi permainan, sepertinya permainan lebih seru daripada
sekedar tidur di berugak. Permainan kartu dimulai, yang kalah harus menjepit
botol dengan menggunakan dagunya, semakin malam semakin seru. Begitulah kami,
meluapkan rasa capek dengan berkumpul, bercanda, bermain, kemudian tertawa
lepas bersama. Saling ejek adalah hal biasa, tak perlu saling mengumbar benci dan
memupuk kedengkian, yang kalah maupun yang menang sama-sama tertawa itu lah
kami dan Itulah tujuannya KEBERSAMAAN.
Entah berapa lama kami bermain, satu persatu mulai mengambil posisi tidur di
berugak dan ada sebagian dari kami yang begadang untuk sekedar berbincang dan
melihat indahnya bintang di langit Kenawa.
Paginya, satu persatu kami dibangunkan untuk sholat subuh, Masyaallah sholat di dermaga pinggir pantai itu luar biasa. Setelah sholat kami menyiapkan senter, headlamp kamera, hp dan spanduk, persiapan untuk mendaki bukit. Dalam pejalanan menuju bukit tiba-tiba kami sadar ternyata ada kuburan tepat di tengah-tengah pulau ini. Beruntungnya kami tahunya setelah pagi, kalau kemarin atau malam, entah bagaimana jadinya.
Paginya, satu persatu kami dibangunkan untuk sholat subuh, Masyaallah sholat di dermaga pinggir pantai itu luar biasa. Setelah sholat kami menyiapkan senter, headlamp kamera, hp dan spanduk, persiapan untuk mendaki bukit. Dalam pejalanan menuju bukit tiba-tiba kami sadar ternyata ada kuburan tepat di tengah-tengah pulau ini. Beruntungnya kami tahunya setelah pagi, kalau kemarin atau malam, entah bagaimana jadinya.
Bukit di pulau kenawa ini bisa di
bilang tidak terlalu tinggi dan curam, pada gundukan pertama jalan tidak
terlalu licin, namun setelah gundukan kedua menuju puncaknya, jalannya agak
licin dan ini kami ekstra hati-hati karena kami tidak menggunakan sepatu khusus
untuk mendaki. Sampai di puncak bukit, sambil menunggu sunrise, kami sibuk mengabadikan
keindahan pulau kenawa ini dengan berfoto-foto ataupun dengan
celotehan-celotehan kami di video. Bayangkan betapa indahnya dunia ini, langit di pagi hari dan udara yang sejuk, kita
bisa melihat pulalu Lombok, pulau Sumbawa, Gunung Rinjani dari bukit ini,
Masyaallah betapa Indahnya Karunia Allah Yang Maha Besar dan Kuasanya telah
menciptakan tempat seindah ini. Alhamdulillah akhirnya kami bisa melihat
Sunrise di Pulau Kenawa.
Setelah puas berfoto, kami kembali
ke berugak dan mempersiapkan barang-barang untuk kembali ke Lombok. Namun tak cukup
rasanya, jauh-jauh ke Kenawa tapi tak menikmati indahnya taman laut di Pulau ini.
Kakak-kakak sudah mempersiapkan diri untuk snorkling dan berenang, sedangkan
kami lebih memilih untuk tidur di berugak.
| Berburu Sunrise di Kenawa |
Keindahan alam laut pulau kenawa ini
tidak bisa kita sepelekan, dengan keadaan yang masih alami, belum terkena
polusi, terumbu karang, rumput laut, ikan-ikan, bintang laut dan keindahan alam
bawah laut pulau kenawa ini terekam dengan kamera Go Pro yang kami bawa. Setelah
puas snorkeling akhirnya kami bersiap untuk kembali, terlebih dahulu kami
menelepon pemilik perahu yang telah mengantarkan kami untuk menjemput kami
kembali.
Sampai di Poto Tano kami hampir
ketinggalan Ferry yang kemarin sudah mengantarkan kami ke Poto Tano, untuk
kembali ke Lombok niatnya kami memang ingin menggunakan ferry ini lagi, Rezeki
tidak kemana, tiba-tiba kapten kapalnya datang langsung menjemput kami dengan
sepeda motornya dan mengizinkan kami untuk naik.
Semua keindahan itu terekam dalam ingatan kami. Keindahan savana yang hijau, keindahan terumbu karang dan segala cerita indah di Pulau Kenawa, Dua Hari satu malam di pulau tak berpenghuni ini, serasa menjadi pulau pribadi milik kami.
Semua keindahan itu terekam dalam ingatan kami. Keindahan savana yang hijau, keindahan terumbu karang dan segala cerita indah di Pulau Kenawa, Dua Hari satu malam di pulau tak berpenghuni ini, serasa menjadi pulau pribadi milik kami.
SEBUAH PERJALANAN AKAN TERASA MENYENANGKAN APABILA KITA LAKUKAN ORANG-ORANG TERDEKAT KITA. TETAP KOMPAK, SEMOGA NEXT TRIP BISA LENGKAP.
#NTBXXI, NEXT TRIP????




