Wednesday, March 18, 2015

NTB XXI goes to treasure Gili, Mission : Find a Gopro


NTB XXI GOES TO TREASURE GILI
Mission : Find a GoPro


Mungkin perjalanan kali ini bisa dibilang perencanaan yang meleset, kenapa? Karena awalnya kami merencanakan untuk Rafting, tiba-tiba ada tawaran untuk trip snorkeling dan keliling Gili di Lombok Timur. Setelah banyak perdebatan dan ketidakjelasan, akhirnya WE FOUND A NEW WORLD.

Adventure corps Purna Praja NTB XXI

   Perjalanan dari Mataram ke Lombok Timur menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam. Dengan modal nekat, menerobos hujan kami pergi menggunakan sepeda Motor. Penyebrangan menuju Gili Petelu nantinya akan melewati Gili Rei, Gili Bembeq, Gili Pasir, Gili Kere, Pulau Maringkik dan Pantai Pink untuk mencari spot snorkeling dapat dilakukan melalui Tanjung Luar dengan biaya 500 ribu untuk satu perahu . 

 Sepanjang perjalanan kami menikmati pemandangan laut yang  luar biasa indahnya, laut biru, pulau-pulau dengan rumput pohon jagung dan pasir putih. Di tengah perjalanan kami juga melihat ada tiang-tiang listrik di tengah lautan. Pemandangan yang jarang bisa dilihat, ternyata memang sengaja ditimbun banyak pasir demi masuknya listrik ke desa Maringkik tersebut.

Perahu yg kami gunakan

 Tujuan pertama kami adalah Snorkling di tengah laut dekat Pulau Maringkik. Kata Pak Edi Nahkoda perahunya, kalau sore air laut di dekat pulau maringkik ini akan surut, kita bisa melihat pasir sebagai jalan penghubung ke pulau Maringkik. Setelah menemukan spot terbaik untuk snorkling, Pak Edi membagikan Pelampung dan alat snorkling untuk kami. Dan ini adalah awal permulaan kenapa judul cerita kali ini adalah FIND A GOPRO.

 Awalnya kami semua asik menikmati keindahan laut, terumbu karang, ikan-ikan kecil dll, niatnya memang akan mengabadikan keindahan bawah laut dengan GoPro, namun karena kesalahan teknis GoPro itu jatuh dan tiba-tiba hilang. Kepanikan dimulai, bukan hanya karena GoPro itu jatuh sehingga kami tidak bisa mengabadikan keindahan bawah laut, tapi GoPro itu hasil PINJAMAN !!!!. Hampir satu setengah jam kami menghabiskan waktu hanya untuk mencari GoPro di sekitaran pulau Maringkik. Akhirnya kami menenangan diri dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Gili petelu, rencananya kami akan kembali ke sekitaran Pulau Maringkik lagi, saat sore ketika airnya sudah surut untuk mencari GoPro itu lagi.

 Perjalanan menuju Gili Petelu dari pulau Maringkik sekitar 30 menit, dengan hati yang tidak tenang, kepikiran GoPro yang entah jatuhnya dimana. Sesampainya di Gili Petelu, pikiran tentang GoPro hilang sejenak. Pemandangan yang menyegarkan mata. Laut Gili Petelu ternyata menyimpan biota-biota laut yang cantik dan menakjubkan. Ada gerombolan karang berwarna hijau terang, bintang laut besar berwarna biru, ada juga Nemo dan beserta saudara-saudaranya. Gradasi warna birunya mengagumkan, air laut yang biru. Sekilas warna pasirnya terlihat seperti warna pink, dilihat dari dekat, banyak butiran-butiran pasir berwarna pink yang katanya berasal dari pecahan-pecahan karang. Kami menghabiskan waktu untuk berfoto dan makan siang. Seperti biasa, dengan modal nasi bungkus saja, kita bisa merasakan bagaimana nikmatnya makan ditengah laut.

Gili Petelu
  Setelah menghabiskan waktu di Gili Petelu, kami putuskan untuk kembali ke spot awal dekat pulau Maringkik untuk mencari kembali GoPro yang jatuh tadi. Dengan bermodalkan perkiraan dan alat snorkeling. Pencarian Gopro yang ukurannya 1:1.000.000.000 dengan laut yang luas kemungkinan sangat kecil untuk kami menemukannya, yang paling diingat adalah insiden kaki Kak Billi dan Nindi yang terkena bulu babi saat mencari Gopro, panik luar biasa, itu keadaan yang mungkin bisa digambarkan saat itu. Nindi yang kakinya keram langsung diangkat kembali ke perahu, untungnya ditengah laut masih ada sinyal, kami langsung googling bagaimana pertolongan pertama untuk orang yang terkena bulu babi. Ternyata pertolongan pertama untuk korban bulu babi adalah dengan menggunakan air kecing.

  Perjuangan mencari GoPro ini luar biasa, kakak-kakak semuanya turun untuk mencari GoPro. Kami yang perempuan hanya bisa memberikan semangat dari perahu, antara pasrah GoPro itu hilang dan tidak, sekitar satu jam lebih, disaat hampir menyerah tiba-tiba Kak Billi berteriak dan berkata “KETEMU, GOPRONYA KETEMU!!!!” dan seketika euphorianya luar biasa, AKHIRNYA WE FOUND THAT GOPRO, hahahahaha.

 Setelah Berusaha dan bersusah payah mencari GoPro, akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Gili Pasir. Gili pasir merupakan sebuah pulau kecil yang isinya hanya pasir. Apabila air surut akan muncul pulau kecil yg isinya hanya pasir. Disini kami makan sore, makanan rumah seperti ikan bakar, udang dan kerupuk yang sudah disiapkan oleh teman yang merupakan tour guide kami kali ini. Nikmatnya makan sore sambil menikmati pemandangan laut, dikelilingi oleh lautan biru di pulau pasir. Betapa nikmatnya makan bersama teman-teman seperjuangan, apalagi setelah pencarian panjang mencari GoPro. Semilir angin pantai, pasir putih serta laut biru laut yang indah dipandang. Setelah puas mengabadikan keindahan pulau pasir ini kami kembali dengan tenang, walaupun tidak bisa mengabadikan keindahan bawah laut karena GoPro yang tadinya sempat hilang, namun yang terpenting adalah GoPro sudah ditangan.

Bulu Babi yg harus diwaspadai
Nikmatnya makan siang di pulau pasir

GoPro yg harus dicari di tengah laut yg LUAS


NB : Terimakasih untuk Kak itoknya Windi beserta temannya yg sudah menjadi tour Guide kami.
        ADVENTURE CORPS PURNA PRAJA NTB XXI, NEXT TRIP ??






   

Friday, February 27, 2015

Its like our private island, Kenawa Island



ITS LIKE OUR PRIVATE ISLAND, KENAWA ISLAND


     Cerita kali ini mengenai perjalan menuju Pulau Kenawa di Sumbawa, as usually perjalanan kali ini dikomandoin sama Bilyando Idul Islam. Perencanaannya pun sudah  dari satu bulan sebelumnya dan seperti biasanya bukan orang Indonesia kalo gak Ngaret rencana berangkat pukul 07.00 menjadi pukul 09.00 pagi.

         Perjalanan menuju pulau kenawa terlebih dahulu harus menyeberang melalui pelabuhan Haji di Lombok Timur. Perjalanan dari Mataram ke Lombok Timur sekitar satu jam setengah dengan menggunakan sepeda motor. Sampai di Lombok Timur, kami terlebih dahulu istirahat di rumah kak Yadi, kemudian dari rumah kak Yadi kami diantar dengan menggunakan mobil menuju pelabuhan Lombok. Penyebrangan dari Labuhan Lombok menuju Poto Tano dengan menggunakan kapal ferry menghabiskan waktu sekitar 1 jam 30 menit.

Kapal ferry ini yg mengantar kami pergi dan pulang

         Untuk mencapai Pulau Kenawa satu-satunya cara adalah menyewa perahu. Tarif sewa perahu biasanya tergantung banyaknya penumpang. Setelah negosiasi dengan pemilik perahu, akhirnya kami diberikan tarif seharga Rp 400.000 dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. Sepanjang perjalanan dari pelabuhan hingga pulau Kenawa, kami melihat bukit-bukit dengan rumput yang hijau, pasir-pasir putih dan air laut yang berwarna biru.

Menuju pulau Kenawa dengan Perahu
       Menginjakkan kaki di Pulau Kenawa merupakan suatu pengalaman tak akan terlupakan. Sebuah pulau kosong tanpa penghuni, yang dipenuhi dengan padang savana yang hijau dengan sebuah bukit yang terdapat di ujung pulau. Terdapat beberapa berugak di pesisir pulau, bahkan, hampir mengelilingi pulau ini, sebagian atapnya sudah banyak yang bolong, terbang bersama angin. Terdapat Tower penampung air namun sudah karatan. Penampung airnya tak ada sama sekali. Kosong tak berbekas, disebelah kirinya terdapat dua toilet yang sudah tidak terurus lagi. Di sisi barat pulau Kenawa berbatasan dengan pulau Sumbawa dengan jarak lumayan dekat.



           Tiba di pulau ini, kami melihat dua orang pria yang sedang snorkling, ternyata hari itu pengunjung pulau ini baru dua orang. Rombongan menjadi pengunjung berikutnya dengan jumlah dua belas orang, namun tidak lama kedua orang tersebut dijemput dan kembali. Setelah menurunkan barang-barang, kami langsung menuju berugak dan selanjutnya istirahat sejenak di berugak paling besar di salah sudut di bagian barat laut pulau Kenawa.
         Di luar, suasana yang menyejukkan membuat kami ingin segera berenang melihat dan merasakan keindahan alam bawah laut di Pulau ini, namun perut tidak bisa dibohongi sepertinya sudah waktunya kami untuk memakan nasi bungkus yang tadi kami beli di kapal ferry saat penyeberangan. Betapa nikmatnya nasi bungkus apabila kita makan di tempat  seindah ini bersama orang-orang terdekat kita. Angin sepoi-sepoi yang berhembus kencang dari pepohonan membuat kami semakin tidak sabar untuk berenang. Siang menjelang sore kami habiskan waktu dengan berenang dan menikmati keindahan pulau kenawa, sebagian dari kami mempersiapkan tenda untuk beristirahat. Saat kami asik berenang dan snorkeling ada beberapa pengunjung yang datang bergerombol, kami pikir mereka juga akan menginap seperti kami, namun ternyata mereka hanya singgah untuk mengabadikan keindahan pulau kenawa ini.

Berugak ini menjadi tempat tidur kami juga
        Setelah berenang dan berkeliling pulau, kami menuju tenda dan api unggun yang telah disiapkan, kemudian kami menghabiskan waktu untuk menunggu sunset dan waktu shalat sambil bercerita dan mengabadikan foto dipinggir pantai. Semakin sore semakin terasa kalau pulau ini milik pribadi, karena sudah tidak ada pengunjung lain selain kami berdua belas. Menjelang malam, setelah sholat kami tetap menikmati indahnya karunia Tuhan, kami habiskan waktu di pingir pantai. Ketika kami asik bercerita tiba-tiba Itaq berteriak, ternyata ada ular laut yang melewati kakinya, suasana mulai menegang kami mulai tidak tenang karena sudah dua ular laut yang naik ke darat malam itu, beruntung ada kak Atar (Si Pawang Ular saudara Panji Petualang) yang berani untuk memegang dan mengembalikan ular tersebut ke laut.
      Karena semakin malam, akhirnya kami beranjak menuju tenda yang sudah di persiapkan tadi, sambil bercerita, mendengarkan lagu, meminum kopi dan memakan snack bekal di dekat api unggun. Awalnya terasa menyenangkan, namun, setelah beberapa waktu tiba-tiba Kak Wahyu melihat ular laut itu naik kembali dan berada di dekat tenda kami, suasana kembali menegang, kemudian kakak-kakak mengambil inisiatif untuk memindahkankan semua barang-barang kami ke berugak terdekat. Jadilah malam itu kami putuskan untuk tidak tidur di tenda, karena semakin malam ular laut semakin banyak yang naik ke daratan itu berbahaya.

      Ketika hari semakin malam, perut kami mulai keroncongan dan waktunya untuk memakan bekal pop mie. Istirahat malam berubah menjadi permainan, sepertinya permainan lebih seru daripada sekedar tidur di berugak. Permainan kartu dimulai, yang kalah harus menjepit botol dengan menggunakan dagunya, semakin malam semakin seru. Begitulah kami, meluapkan rasa capek dengan berkumpul, bercanda, bermain, kemudian tertawa lepas bersama. Saling ejek adalah hal biasa, tak perlu saling mengumbar benci dan memupuk kedengkian, yang kalah maupun yang menang sama-sama tertawa itu lah kami dan Itulah tujuannya KEBERSAMAAN. Entah berapa lama kami bermain, satu persatu mulai mengambil posisi tidur di berugak dan ada sebagian dari kami yang begadang untuk sekedar berbincang dan melihat indahnya bintang di langit Kenawa.

         Paginya, satu persatu kami dibangunkan untuk sholat subuh, Masyaallah sholat di dermaga pinggir pantai itu luar biasa. Setelah sholat kami menyiapkan senter, headlamp kamera, hp dan spanduk, persiapan untuk mendaki bukit. Dalam pejalanan menuju bukit tiba-tiba kami sadar ternyata ada kuburan tepat di tengah-tengah pulau ini. Beruntungnya kami tahunya setelah pagi, kalau kemarin atau malam, entah bagaimana jadinya.
       Bukit di pulau kenawa ini bisa di bilang tidak terlalu tinggi dan curam, pada gundukan pertama jalan tidak terlalu licin, namun setelah gundukan kedua menuju puncaknya, jalannya agak licin dan ini kami ekstra hati-hati karena kami tidak menggunakan sepatu khusus untuk mendaki. Sampai di puncak bukit, sambil menunggu sunrise, kami sibuk mengabadikan keindahan pulau kenawa ini dengan berfoto-foto ataupun dengan celotehan-celotehan kami di video. Bayangkan betapa indahnya dunia ini, langit di pagi hari dan udara yang sejuk, kita bisa melihat pulalu Lombok, pulau Sumbawa, Gunung Rinjani dari bukit ini, Masyaallah betapa Indahnya Karunia Allah Yang Maha Besar dan Kuasanya telah menciptakan tempat seindah ini. Alhamdulillah akhirnya kami bisa melihat Sunrise di Pulau Kenawa.
Berburu Sunrise di Kenawa
        Setelah puas berfoto, kami kembali ke berugak dan mempersiapkan barang-barang untuk kembali ke Lombok. Namun tak cukup rasanya, jauh-jauh ke Kenawa tapi tak menikmati indahnya taman laut di Pulau ini. Kakak-kakak sudah mempersiapkan diri untuk snorkling dan berenang, sedangkan kami lebih memilih untuk tidur di berugak.
        Keindahan alam laut pulau kenawa ini tidak bisa kita sepelekan, dengan keadaan yang masih alami, belum terkena polusi, terumbu karang, rumput laut, ikan-ikan, bintang laut dan keindahan alam bawah laut pulau kenawa ini terekam dengan kamera Go Pro yang kami bawa. Setelah puas snorkeling akhirnya kami bersiap untuk kembali, terlebih dahulu kami menelepon pemilik perahu yang telah mengantarkan kami untuk menjemput kami kembali.

      Sampai di Poto Tano kami hampir ketinggalan Ferry yang kemarin sudah mengantarkan kami ke Poto Tano, untuk kembali ke Lombok niatnya kami memang ingin menggunakan ferry ini lagi, Rezeki tidak kemana, tiba-tiba kapten kapalnya datang langsung menjemput kami dengan sepeda motornya dan mengizinkan kami untuk naik.

     Semua keindahan itu terekam dalam ingatan kami. Keindahan savana yang hijau, keindahan terumbu karang dan segala cerita indah di Pulau Kenawa, Dua Hari satu malam di pulau tak berpenghuni ini, serasa menjadi pulau pribadi milik kami. 

SEBUAH PERJALANAN AKAN TERASA MENYENANGKAN APABILA KITA LAKUKAN ORANG-ORANG TERDEKAT KITA. TETAP KOMPAK, SEMOGA NEXT TRIP BISA LENGKAP. 
#NTBXXI, NEXT TRIP????

Amazing Trip, between a life a dead TIU UMBAK


THIS IS AN AMAZING TRIP, EKSTRIM WAY TO GET A BEAUTIFULL WATERFALL
“TIU UMBAK”



Im back with a new story, seperti biasa kali ini LONG TRIP lagi. Perjalan menuju air terjun antah berantah bersama Nindi, Dita, iIaq n Aan lagi ditambah Gaung, Gilang, Erwin, Husein dan Jumaji.

Benar juga kata orang, kadang sesuatu yang tidak direncanakan itu memang bisa terealisasi, sama seperti perjalanan kali ini, tanpa perencanaan dan terealisasi. Sabtu pagi Nindi di BBM Aan ngajakin kami untuk ke Air terjun di Kabupaten Lombok Utara yang belum terjamah banyak orang, selanjutnya deal  Hari minggu  kami siap untuk pergi go, go, gooooo !!!!!!!!!!!!!!.

Minggu, 1 Februari 2015.

Bukan orang Indonesia kalo gak ngaret, janjinya kumpul di rumah Nindi pukul 08.00 pagi , malah jadi ngaret 2 jam, jadilah kami berangkat pukul 10.00 pagi.

Perjalanan menuju Lombok Utara lancar, tapi kami beberapa kali harus bertanya dulu dimana Desa Gumantar ini. Sekitar pukul 12.30 setelah nyasar-nyasar akhirnya kami sampai di Desa Gumantar. Di Desa Gumantar ini kami sudah ditunggu oleh temannya Erwin, namanya Jumaji penduduk asli Desa ini. Desa Gumantar ini ternyata merupakan Desa “WETU TELU”, Desa yang masih sangat alami, tanpa listrik, sinyalpun seadanya, Luar biasa ya, ternyata masih ada Desa yang belum terjamah listrik sama sekali.

Pukul 1 siang, Setelah Istirahat Makan dan Sholat, kami segera beranjak menuju air Terjun yang ternyata bernama “TIU UMBAK” ini. Kata Jumaji perjalanan ini bisa menghabiskan waktu 3 jam, mari kita lihat semoga saja benar.

Awalnya kami menggunakan mobil. Perkiraan Jumaji, untuk 500 Meter pertama jalan dapat dilewati dengan menggunakan Mobil. Namun ternyata tidak seperti yang diharapkan, jalannya mungkin hanya cocok digunakan oleh Mobil maupun Motor sport, atau bahkan lebih baik jalan kaki,dan akhirnya mau tidak mau kami harus berjalan kaki.

Awalnya perjalanan masih landai, tanjakan belum curam, kami hanya melewati perkebunan dan sawah-sawah milik warga. Sekitar satu jam kami masih bisa menikmati perjalanan yang "KELIHATANNYA AMAN" ini. Satu jam berikutnya kami mulai memasuki HUTAN. Seperti jalan menuju mangku sakti dan Tiu Kelep jalannya masih bisa dianggap normal, namun semakin lama jalannya semakin curam, dan ternyata kami sudah berada di LERENG JURANG!!!! OH GOD !!. Jalan yang menurun dan licin ini benar-benar bisa memacu Adrenalin. Disebelah kiri kami bisa melihat Jurang yang terjang, NGERI memang! tapi perjalanan harus tetap dilanjutkan, ternyata ini alasan Jumaji membawa Tali tambang. Ternyata tali tambang ini sebagai pegangan kami saat menuruni dan menaiki jalan menuju TIU UMBAK ini. LUAR BIASA memang!! Pantas saja Air Terjun ini belum pernah dikunjungi wisatawan, ternyata JALANNYA TERLALU EKSTRIM !!!.


Jalan turun ke air terjun yang licin

Perjalanan mencari air terjun Tiu Umbak ini benar-benar menguras tenaga, energi dan hampir menguras air mata juga. Perjalanan sudah satu jam, semakin lama semakin jauh, kami tidak sadar kalau ternyata sudah berada di tepi jurang, bayangkan sudah hampir pukul 3 sore kami belum juga menemukan air terjun ini. suara airpun belum terdengar sama sekali. Sepanjang perjalanan kami hanya bisa nekat dengan modal bismillah, jatuh, kepleset, ulat, lintah bahkan katanya lubang ular juga kami lewati. Jalan yang menurun dan licin serta lembab membuat kami ekstra hati-hati, beruntung ada tali tambang yang dibawa oleh Jumaji, sepatu maupun sendal yang kami gunakan terlalu licin untuk dipakai, terpaksa sepatu maupun sendal tersebut kami lepas dan gantung di pepohonan yang ada. 



Akhirnya sekitar pukul setengah 6 sore kami sampai di air terjun Tiu Umbak ini.  Setelah melewati jalan yang luar biasa ekstrimnya benar-benar terbayarkan dengan pemandangan indah Air Terjun ini, Masyaallah Indahnya. Setelah Puas berenang dan mengabadikan keindahan Tiu Umbak ini kami memutuskan untuk segera kembali, karena takut kemalaman. Pukul 6 kami sudah kembali untuk naik keatas, perjalanan pulang mungkin lebih menegangkan dan melelahkan dari perjalanan turun. Mendaki dengan keadaan yang agak gelap dan licin, semua jenis hewan yang ada di dalam hutan sudah saling bersahutan, berebut oksigen, benar- benar dengan sisa tenaga yang ada ini kami harus mendaki dan menerobos hutan. Sambil meraba-raba jalan, berpegangan pada akar-akar pohon yang ada, sudah tidak ada lagi kata takut, antara berani dan pasrah dengan nasib kami, entah dengan modal bismillah dan saling bantu ini akhirnya kami sampai juga di jalanan datar keluar Hutan dan menuju Desa Gumantar.



Alhamdulillah, hutan kami lewati dengan selamat sehat wal'afiat. Setelah keluar hutan kami masih harus melanjutkan perjalanan lagi melewati perkebunan warga, tanpa jeda agar cepat sampai Desa Gumantar. Sampai di desa Gumantar pukul setengah 9 malam kami langsung berpamitan untuk pulang ke Mataram. 

Beberapa Insiden Lucu dan menegangkan terjadi, tragedi hampir mati tenggelam, kepleset, kentut, dll (dan sepertinya tidak perju dijabarkan pada cerita ini cukup kami ingat di memori kami saja. 

Perjalanan Ke Tiu Umbak ini merupakan perjalanan paling EKSTRIM yang pernah kami lakukan. Terimakasih kepada Jumaji karena sudah rela menjadi Tour Guide kami. Untuk Aan, Gaung, Gilang, Erwin dan Husein sebagai saudara baru selama EKSTRIM TRIP ini.


Next TRIP ????

Kenawa, I’m Comiiiing 

Pergasingan Hill, NTB untuk Indonesiaaa!!


BUKIT PERGASINGAN




NAIK GUNUNG LAGI??.
Awalnya kami kira ini Cuma bohongan, ternyata kami harus mendaki Bukit Pergasingan untuk mengambil Gambar demi video Profil NTB, “NTB UNTUK INDONESIA” !!!!.

Setelah mengambil gambar di Sendang Gile, akhirnya kami berangkat pukul 17.00 menuju Sembalun. Sampai di Sembalun sekitar pukul 06.30. Seperti rencana kami akan mendaki bukit pergasingan pukul  21.00. Setelah Istirahat sholat dan mempersiapkan barang-barang kami berangkat menuju Bukit Pergasingan..

Bismillah, BUKIT PERGASINGAN..
Bukit Pergasingan, tepat berada di Desa Sembalun, Lombok Timur, dengan ketinggian 1700 mdpl. Karena kami berangkat malam hari, modal yang harus dibawa adalah senter dan headlamp serta seorang porter penunjuk jalan yang merupakan penduduk asli desa sembalun,  oke, lets go, perjalan dimulai !!!.
Awal perjalanan terdapat tangga, kata porter tangga ini sengaja dibuat untuk mempermudah perjalanan, rencananya tangga ini akan dibuat hingga atas, namun masih belum terealisasi, hanya ada 180 anak tangga di awal perjalanan. Perjalanan menuju bukit pergasingan ini tidak sesulit ketika mendaki Rinjani. Jalur pendakian tidak bisa dianggap sepele karena di beberapa titik kita akan menemui kemiringan kurang lebih 65 derajat. Jalan antara punggungan menuju puncak tidak terlalu curam.

Tiga jam pendakian terasa sangat melelahkan namun setimpal dengan pemandangan yang disajikan baik saat dalam perjalanan mendaki sampai kami berada di puncak. Sebuah tempat dimana kami bisa melihat seluruh desa sembalun dan bukit-bukit yang mengelilinginya.  Sekitar pukul 23.00 kami sampai di puncak pergasingan, ketika sampai di puncak bukit pergasingan kami benar-benar merasa kagum melihat betapa indahnya dunia ini. Masyaallah dimana mata dan pikiran kita dimanjakan oleh keindahan alam semesta yang begitu mempesona dari puncak bukit pergasingan. 

Tak lama waktu kami habiskan untuk menikmati keindahan puncak pergasingan tersebut, ternyata kami harus kembali lagi  dan memutar arah karena menurut Mas Dhani sebagai Fotografer  view di puncaknya tidak sesuai dengan topic gambar yang akan diambil besok, kemudian kami berbalik arah lagi dan mencari view yang mas dhani anggap sesuai. Setelah memutar balik akhirnya kami mendapatkan tempat yang viewnya sesuai dengan keinginan mas Dhani, tenda Siap dan selamat malam Pergasingan.

Morning Pergasingan.
Menghirup udara pagi pergasingan rasanya sangat menyenangkan, teh dan kopi pun terasa nikmat.  Pagi itu agak sedikit berawan, yang kami tunggu-tunggu adalah Sunrise, Sunrise di Bukit Pergasingan luar biasa indahnya Mas Dhani sempat untuk mengambil gambar Sunrisenya, namun kami harus menunggu awan kembali biru karena sejak pagi awannya masih agak gelap karena mendung.

Sembari menunggu awan kembali biru, kami menghabiskan waktu dengan mengabadikan keindahan bukit pergasingan, dimana semua sisi puncak bukit pergasingan menawarkan panorama berbeda-beda, pada bagian barat bukit pergasingan kita dapat melihat gagahnya gunung Rinjani yang terlihat dengan jelas, bagian selatan terlihat bagaimana indahnya persawahan masyarakat sembalun yang seakan-akan sengaja disusun seperti balok-balok puzzle, akan tetapi semua itu sudah ada secara alami, selain persawahan, kita juga bisa melihat desa sembalun yang di kelilingi oleh bukit telaga, pusuk selong, anak dara dan bukit yang lain, di sebelah timur anda akan di suguhkan untuk menikmati betapa mempesonanya alam yang selama ini masih lebat dengan pepohonan yang umurnya berpuluh-puluh tahun, bahkan berabat-abat sehingga di dalam hutan tersebut masih terdapat hewan-hewan liar seperti rusa, kijang kera babi hutan dan burung-burung liar lain nya yang  kita bisa dengar.

Suasana semakin mendung dan hujanpun turun, semakin lama hujan semakin lebat, dua   tenda terendam air, yang tersisa adalah satu tenda diisi oleh kami berenam. Bayangkan betapa dinginnya kehujanan di atas bukit ini, benar-benar pengalaman luar biasa. 

Bukit pergasingan ini akan membuat kita terkagum-kagum dan ingin kembali lagi untuk mengunjunginya, dari bukit ini anda akan menikmati dan menghirup udara laut dan pegunungan  yang pas untuk dijadikan penghilang stres atau kejenuhan.

Ini merupakan salah satu pengalaman terbaik saya, saat itu bukit Pergasingan belum setenar sekarang. Kabarnya sekarang kalau ingin mendaki bukit pergasingan saja kita harus rela berdesak-desakan saking ramainya.

Hello Seoul !!!!!

Hello Seoul !!!!  Assalamualaikum, mari saya ceritakan tentang sebuah ketidakmungkinan yang menjadi mungkin . Bagaimana perjalanan ...